Minggu, 06 Februari 2022

28-05-20

Sulit sekali untuk mempercayainya, membenarkannya sekali sekali, memaafkannya, dan menerimanya. Mungkin karena belum pernah kucoba sebelumnya  atau aku sudah mencoba tetapi belum sepenuhnya mencoba. Seperti tidak benar-benar mencoba atau sekedar asal-asalan agar tidak dicap buruk. Walaupun kemudian aku menampar diriku sendiri karena aku percaya baik dan buruk bisa kita ciptakan sendiri. Dan di penghujung paragraf ini kusadari sekali lagi bahwa aku terlalu keras dengan diriku sendiri.

Itu semua mungkin karena aku ingin baik atau tak tega atau sekali lagi ingin dianggap tidak egois dengan menyalahkan orang lain. Tapi di beberapa kesempatan aku selalu mengeluhkan sikap orang lain terhadapku. Aku juga protes kenapa aku diperlakukan seperti itu. Tetapi secara tidak sadar aku menyalahkan orang lain atas kekecewaanku terhadap diriku sendiri. Beginilah sebagian kecil isi kepalaku saat terjaga di malam dan pagi hari. Setelahnya aku membawa perasaan negatif ini ke alam bawah sadarku. Bunga tidur yang harusnya harum dan membuatku tersenyum saat bangun kurusak sendiri.

Bunga-bunga itu selalu layu dan memberi kesan seram. Memekarkan kelopaknya sekaligus menampakkan gambar seram. Aku selalu ketakutan. Dan tak jarang aku bangun dengan muka lesu dan tubuhku semakin lelah. Mimpi-mimpi yang panjang dan aneh.

Terkadang di malam hari aku merengek seperti manusia paling menderita di dunia. Mungkin iya dan pasti tidak. Orang lain dan terkadang aku juga berfikir aku egois. Kemudian fikiran lain bilang manusia umum memiliki egosentris. Lagi-lagi hanya berputar-putar disitu saja.

Beberapa orang aku seperti orang yang memiliki penyakit dalam. Pucat dan tidak bergairah melakukan apapun. Mungkin iya mungkin tidak. Aku masih bingung jika ditanya apakah baik-baik saja atau apa yang aku keluhkan. Sampai di paragraf inipun kalian yang baca tulisan ini mungkin masih bingung aku nulis apa dan lagi njelasin apa.

Sebenarnya aku juga lagi berusaha mengurainya dan aku juga masih kesulitan menemukan jaban atas pertanyaan-pertanyaanku. Kenapa aku lebih banyak murung? Kenapa aku ingin dijauhi orang-orang dan tak mau kesepian? Kenapa aku ingin menghilang tapi juga ingin ditemukan? Kenapa aku ingin pergi tapi juga ditemani?

Kalau aku tidak menemukan jawabannya aku lagi-lagi dan hanya bisa memaki diriku sendiri, menyakitinya, dan mengumpat supaya lekas mati.

Aku sempat berfikir ingin minta tolong tapi pikiran yang lain tak ingin membebani siapapun lagi. sudah cukup mereka kebingungan dan tersakiti karena sikapku. Dan kurasa percuma jika aku belum bisa memaafkan diriku sendiri.

Jika aku sudah kelelahan menangis dan memaki, aku akan tertidur dan melupakan sejenak atau alam bawah sadarku masih memberontak dengan menghantuiku. Jika aku terbangun akan kucoba lagi sebisa ku untuk tidur dan berharap dia datang menemuiku. Dia yang kusayangi.

Aku tak berani lama-lama orang-orang yang kusayangi. Aku akan semakin merasa bersalah. Aku mengecewakan mereka. Mereka kebingungan dan aku masih tak bisa menjelaskannya dengan baik. Akhirnya mereka yang mengalah.

Apakah aku terlihat mengasihani diriku sendiri? Apakah aku terlalu memanjakan diriku sendiri dan bersikap berlebihan? Apa yang harus aku lakukan jika aku tak punya keinginan apapun? Apakah aku benar-benar tidak mengingikan apapun? Bagaimana jika selama iniaku membohongi diriku sendiri? bagaimana jika aku ternyata menipu perawat dan dokter supaya aku bisa dirawat di rumah sakit?

Aku takut. Aku lelah. Sungguh.

Jumat, 29 Mei 2020

Tentang Aku Selama Satu Tahun

Mei '19
Aku selalu buru-buru ingin masuk kamar dan meminta maaf kepada semua orang. Tetapi aku tidak suka dengan orang-orang. Kecuali, orang-orang tertentu.

Juni '19
Setiap hari aku dihantui hantu. Tidurku tak pernah lelap. Badanku sulit bergerak dan mataku sulit terbuka. Tetapi aku masih bisa bertahan. Aku sudah menjauhi sebagian orang. Aku juga mulai kesepian dan selalu mencari pelampiasan.

Juli '19
sudah tak setiap hari momot-momot itu menemui alam bawah sadarku. Aku tak senang, aku semakin sering menangis diam-diam. Aku jarang mandi. Padahal dulu aku tak pernah absen mandi dua kali sehari. Benar juga, seiring berjalannya waktu, isi kelapaku juga berubah. Tak terkecuali dalam hal-hal yang dulu kubenci. Atau karena dulu aku masih mementingkan nilai?

Agustus'19
Circle ku semakin kecil. 

September'19 sampai Mei'20
Aku lupa dan tak ingin mengingat 'kemarin'. Yang kuingat di belasan malam terakhir aku tidur di siang menuju malam dan bangun di malam menuju pagi.

Selasa, 26 November 2019

Depresi


WUHUU, aku rasa tulisan ini bisa saja me trigger para pembaca. Untuk itu, diharap hati-hati dan aku sangat suka jika ada yang mau memberi kritik dan saran atas tulisanku ini. Selamat membaca.
Standar dan nilai dibentuk dari suara masyarakat  mayoritas. Lalu bagaimana kami yang tidak bisa memenuhi standar dan nilai kalian. Akankah kalian bisa menerima kami?
Walaupun hanya dengan sepasang telinga kalian, itu sangat membantu. Jika kalian tak mau mendengarkan kami. Jangan salahkan kami yang merasa lebih nyaman untuk diam dan memendam. Jika masalah ini terus menerus kami pendam ke dalam tabung kami yang punya kapasitas? Bisa saja sewaktu-waktu...doar...tangan kami berdarah, obat tidur kami konsumsi dengan lahap, sungai-sungai berbau anyir mayat. Karena kami tak tahu harus mengekspresikan dengan apa dan bagaimana.
Sekarang sudah tak sedikit orang yang mencoba dan berani speak up tentang kesehatan mental. Mulai dari kalangan artis, seperti Marshanda dan Ariel Tatum. Mereka mencoba membuang makna tabu untuk membicarakan tentang isu kesehatan mental. Mulai dengan membuat konten di channel youtubenya sampai membuat seminar. Selain itu, banyak juga flatfoam dan aplikasi gratis yang tersedia dan bisa diunduh gratis di smartphone kita. Dari data WHO, setiap 40 detik satu nyawa hilang. Isu ini didengung-dengungkan, karena angka kematian ini bisa membuat bergidik ngeri siapa saja yang membayangkannya.
--- Pemuda yang Depresi ---
Dilansir https://www.cnnindonesia.com/ , penelitian yang dipublikasikan di JAMA Pediatrics menemukan, kunjungan gawat darurat karena upaya bunuh diri pada anak berusia 5-18 tahun melonjak dari 580 ribu pada 2007 menjadi 1,1 juta kasus pada 2015. Data ini didapat setelah peneliti menganalisis kunjungan ke unit gawat dararut pada anak-anak.
Wahyu Budi Nugroho, Mahasiswa Pascasarjana Prodi Sosiologi, Fisipol Universitas Gadjah Mada ini melakukan penelitian independennya yang berjudul Pemuda, Bunuh Diri dan Resiliensi: Penguatan Resiliensi sebagai Pereduksi Angka Bunuh Diri di Kalangan Pemuda Indonesia. Dalam jurnalnya ia mencoba mengurai permasalahan tingginya angka bunuh diri pada pemuda dewasa ini kiranya tak dapat lepas dari penelaahan akan apa, siapa dan bagaimana karakteristik dari pemuda itu sendiri.
Banyak ahli yang mendefinisikan arti dari terminus “pemuda”. Talcott Parsons (dalam Barker, 2009: 339) misalnya, mendefinisikan pemuda sebagai mereka yang memiliki posisi sosial di antara anak-anak dan orang dewasa ditinjau melalui segi institusi keluarga, pendidikan dan pekerjaan. Posisi sosial tersebut berimplikasi pada tanggung jawab pemuda yang jauh lebih besar ketimbang anak-anak, namun mereka tetap berada di bawah kontrol orang dewasa (orang tua), suatu kondisi yang cukup dilematis memang. Namun demikian, Parsons ajeg menekankan bahwa karakteristik utama yang dimiliki pemuda adalah kecenderungannya untuk bergabung dengan dunia orang-orang dewasa.
--- Nilai dan Harapan ---
Banyak hal dan setiap orang memiliki penyebab yang berbeda sampai dia bisa mengalami ganguan mental. Siapa manusia yang bisa memahami manusia lain? Sekalipun mereka memiliki hubungan biologis atauun sedekat papaun mereka.
Bahkan sekalipun tenaga profesional. Tiga psikologi yang kuhubungi tak cukup membuatku ingin lagi bertemu dengan psikologi lain. Mereka hanya menyuruhku ikhlas dan bersyukur? Terlepas dari itu. Dukungan juga sangat itu sangat kami perlukan. Kami tidak butuh penilaian kalian tentang itu. Kami butuh cara bagaimana untuk bersyukur dan menerima diri kami sendiri.
Manusia merdeka itu manusia yang bagaimana? Menurutkku ia yang bisa memilih sebebas-bebasnya pilihan dan jalan hidup kami. Jika kami memaksakan, kami harus menerima resiko yang seharusnya tidak kami terima.
Itu juga penting untuk kalian tahu. Harapan kalian, para orang tua, juga sangat penting untuk kami. Nilai yang bagus, lalu masuk universitas faforit, kerja yang mapan, punya rumah bagus, dan apalah itu. Jika aku hidupku hanya untuk memenuhi harapan-harapan kalian, lalu tak boleh kah aku egois? Aku tak bisa bernafas bebas, terikat dengan nilai-nilai yang kalian bentuk.
--- Stigma Kurang Bersyukur dan Kurang Iman ---
Dilansir pijarpsikologi.org, ada sebuah penelitian yang menemukan sebanyak 75% orang dengan gangguan mental mengaku pernah mengalami stigma negatif dari masyarakat. Angka tersebut seakan-akan menggambarkan perilaku masyarakat kita yang minim edukasi, tapi mengedepankan persepsi. Banyak orang masih beranggapan bahwa kesehatan dan gangguan mental adalah sesuatu yang tabu dan layak untuk dihindari. Banyak isu-isu yang sengaja tidak dibicarakan karena pemahaman dan kesadaran masyarakat terkait kesehatan mental masih sebatas hal gaib yang hanya dapat disembuhkan oleh dukun.
Masih di artikel yang sama dijelaskan juga salah satu stigma yang berkembang di masyarakat bahwa Depresi Disebabkan Karena Kurang Iman dan Kurang Bersyukur.  Padahal komentar yang mencemooh tersebut justru akan semakin membuat orang dengan depresi semakin tenggelam dalam fase depresinya. Depresi bukan tentang bersyukur.
Media informasi dan konsultasi psikologi gratis yang berdiri sejak 2015 ini juga menjelaskan bahawa orang-orang dengan depresi klinis memiliki rasa rendah diri yang besar, memiliki perasaan bersalah yang tinggi, dan bahkan memiliki keinginan untuk mati. Depresi juga bukan karena kurangnya ibadah dan hubungan dengan Tuhan. Seseorang yang mengalami depresi juga pergi beribadah ke gereja, melakukan meditasi bagi penganut Budha, rajin sholat serta puasa bagi Muslim, tetapi masih saja depresi. Mereka masih mengalami depresi, panic attack, melakukan self-cutting, dan masih berpikir untuk bunuh diri. Jadi, depresi tidak hanya sekadar tentang tingkat keimanan, ketagwaan, dan relasi seseorang terhadap Tuhannya. Namun, depresi lebih dari itu.
--- Yang Harus Kalian Tahu ---
Dalam channel youtube menjadi manusia, untuk memperingati hari kesehantan mental. Dibuat konten yang berisi investigasi tentang beberapa jenis penyakit mental. Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika ada orang terdekat kita yang mempunyai kesehatan mental. Di video terseut dijelaskan oleh salah satu psikolog bahwa setiap dari kita tak punya tanggungjawab untuk membantu mereka sampai sembuh. Tetapi, yang paling harus dilakukan adalah dengan membawa mereka ke tenaga profesional. Sekian.

Rabu, 13 November 2019

Gedubrak


Harapan yang kosong
Tadi pagi hujan tak mau berhenti
Rasa yang dimakan waktu
Semua berlalu tanpa sempat ku bersua kepada dunia
Impian yang semu
Terus berjalan tanpa tahu kemana harus berlabuh
Seperti awan gelap yang selalu kembali ke atas kepalaku
Sementara dengan kekekalan yang tak kita pernah tahu
Menuntunku sambil membisikkan cinta, harapan, dan juga ikatan
Tanpa mau memberiku kesempatan
Tuk keluar dan berhembus
Tak kurasakan bab selalu ku abaikan
Leherku kucekik
Mataku menyipit
Tanganku menangis merah
Tubuhku jatuh sejatuh jatuhnya ke jurang terdalam di seluruh alam semesta
Lalu ditempa, ditekan, lalu tak bisa bangun lagi
Hari pun terus berlalu
Ku terdiam
Di tengah malam
Ku tertawa
Di atas semuanya
Ku ingin pulang
Membenamkan tubuhku, pulang.

Jumat, 08 November 2019

SORAI


14 derajat celsius
Ubun-ubunku yang hangat harus berbagi kehangatannya kepada kedua tanganku yang memutih karena hari memulai lagi. Dimana aku nanti ngopi? Baju apa yang kupakai untuk dua hari kedepan? Bagaimana aku menghabiskan hari ini?
01.17 AM
Kenapa aku masih hidup? Tadi ibuku membawa samurai menatap tajam mataku dan menyusulku ke lantai dua. Ia membunuhku dan semuanya putih. Seorang ibu membunuh anaknya sendiri yang durhaka, kurang lebih seperti itu headline yang tertera di koran.
Dunia kapuk
Kenapa setiap scene berganti dengan cepat tetapi masih jelas? Sepertinya pikiran-pikiran ku kemarin siang berubah menjadi monster jahat yang masuk dan menggodaku di sini. Ibu dan bapak masih tetap dengan argumennya masing-masing. Kata bapak, bapak sudah mengalah. Kata ibuk, yang penting anak-anaknya bahagia. Kata nenek, nenek tak punya hak apapun untuk ikut campur urusan anak cucunya.
Bumi
Disini aku bermain peran sesuka ku. Tapi akhir-akhir ini aku tak suka dengan peranku yang menjaadi diri sendiri. Aku adalah aku yang menjadi aku yang tak suka. Tapi kenapa kalo aku enggak suka sama diriku sendiri?. Kecewa, sedih, marah, “itu hanya perasaan belaka” katanya begitu. Sialnya, aku termakan kalimat itu.
Sekali di setiap jam yang terlewati
24 jam. Aku tidur rata-rata jam sepuluh malam dan bangun jam lima pagi, tujuh jam. 24-7 = 17 jam aku hidup. Berati tujuh belas kali aku merasa sia-sia.
Masihkah ada waktu yang banyak untuk sampai pada titik kebahagianku yang utopis? Untuk apa? Katamu dulu hidup untuk sang pencipta sudah lebih dari cuku, Nan? Lah, sudah meregang apa-apa yang dulu aku genggam erat. Semoga, ya hari itu, aku bisa meninggalkan bumi dengan baik.[1]
Potongan-potongan kecil
-      Malam hari. Ada bapak, ibuk, dan juga aku. Kita habis banja-banja manja. Aku yang capek akhirnya dipunji sama bapak sambil merem nikmatin angin malam yang katanya gabaik buat kesehatan tapi nyatanya enak banget. Ibuk jalan di samping bapak. Mereka ngobrolin banyak hal, seingetku. Mereka juga ngerasani aku, tapi aku lupa apa yang mereka bicarakan. Tapi, tanpa disangka momen ini adalah momen yang paling nyaman dan bahagia yang paling baik kesimpen di memori.
-      Dulu, bapak kalo dagang bakso pakek sepatu olahraga, pacakane mbois ilakes. Kalo sekarang boro-boro pakek celana panjang, seringnya sekarang pakek celana pendek sama kaos. Tapi dulu keknya seru banget gitu. Sebelum berangkat, biasanya aku suka ngerjain bapak. Kadang tak suruh nggambar binatang(yang paling aku inget si gambar bebek yang sering digambar bapak, wkwk). Pernah juga bapak  tak suruh jadi kuda terus aku tunggangin. Keliling-keliling rumah sepetak yang dulu bergema cekikikan kita bertiga.
-      Kalo ibuk, aku lebih inget cara dia nerapin disiplin waktu dan urus tetek bengek pekerjaan rumah. Ibuk itu suka kebersihan sama kerapian. Walopun rumah di Jakarta itu kecil, tapi selalu rapi dan bersih.


Hal-hal yang terus berputar setiap hari selama beberapa bulan terakhir. Sulit untuk melepasnya, tanganku sudah terlalu erat menggenggam. Sampai suara itu terdengar lagi, genggamanku akan semakin erat. Aduh, tanganku sakit! 
Lalu, ku ambil tali ku ikatkan potongan-potongan ini menjadi satu. Di ujung yang lain, kulilitkan di tangan kiriku. Semakin keras suara itu, mataku semakin tertutup rapat, tangan kananku semakin sibuk melilitkan tali. Crot...urat nadiku hampir putus!
Inikah ketenangan itu, Tuhan?! Aku mati di akhir cerita. Selamat tinggal.

[1] Tanpa tangisan berlebih dan kebahagian berlebih.

Jumat, 11 Oktober 2019

Aku Tak Sendiri

dapatkah aku keluar sendiri?
melewati pasar, sekolah, dan menyebrang rel kereta sendiri?
walaupun di pasar, perempuan bersorban tidak baik katanya pergi membeli timun sendirian?
walaupun di sekolah perempuan tidak boleh memakai celana?
walaupun untuk menyeberang kereta harus tengok kiri kanan?

jika aku keluar sendirian
dapatkah aku sendirian
melewati berbagai macam orang
menjawab pertanyaan-pertanyaan liar
menjabat semua tangan mereka

karena aku tak pernah keluar sendirian
aku ditemani dia
dia yang tiba-tiba datang mengetuk pintu rumahku
dan dalam hitungan menit mampu membuatku percaya ada sosok yang bisa membantuku
tetapi apakah aku boleh terus bersamanya, Tuhan?

*sebenernya kalo mau paham sama tulisan di atas harus baca dulu tulisan di bawah, ehe.
https://fernandaariyanto.wordpress.com/2019/10/09/tamu-tak-diundang/

Sabtu, 15 Juni 2019

19 Tahun 6 Bulan 8 Hari

Sebenernya banyak banget bintangnya, tapi yang keliatan di kamera cuma satu, ehe.

Syair Indah yang Kau Sukai


Masih kunikmati
Masih kudengarkan
Masih kuhafalkan
Masih kudendangkan
Untuk nanti kita nyanyikan bersama
Untuk nanti kita nikmati bersama
Untuk nanti kita pahami bersama
Karena..
Bersamamu, aku suka
Bersamamu, aku bisa sendu dengan suka
Bersamamu, aku bisa berduka dengan suka
Bersamamu aku suka karena kamu yang aku suka
Jika yang kita maknai salah, berati kita bisa lebih lama bersama
Jika kita belum bisa menikmati, berati kita bisa lebih lama saling mengenal
Jika kita masih belum bisa bernyayi bersama, berati kita bisa berlatih bersama
Wahai manusia di seluruh kerak bumi, ada insan yang selalu ingin bersama insan yang lain
Wahai seluruh tanaman berakar, bisakah kalian bantu kita agar terus bernafas untuk kita lebih lama bersama?
Wahai seluruh mamalia, reptil, amfibi, dan selain itu, bantu kami bertahan hidup, agar bisa terus berlatih, bernyanyi, dan bersama
Dan Tuhan, maafkan kami, yang sedang antusias jatuh cinta
Serta terimakasih, kami bertemu untuk bersama


Umurku hari ini 19 tahun 6 bulan 8 hari.
Di umur itu, aku lagi bingung-bingungnya sama hidup.
Di umur itu, otak sama hati lagi pada rebutan posisi untuk jadi prioritas.
Di umur itu, lagi banyak-banyaknya impian yang pengen dicapai.
Di umur itu, lagi sering-seringnya depresi.
Di umur itu, lagi pengen-pengennya main.
Dan masih banyak lagi.

Karna, kalo aku udah 20 tahun;
Di umur itu, aku pengen udah bisa menikmati pilihan hidupku.
Di umur itu, aku pengen udah bisa ngatur jadwal otak sama hati.
Di umur itu, aku pengen udah bisa ngelangkah ke impian aku.
Di umur itu, aku pengen udah bisa bangkit lagi kalo depresi.
Di umur itu, aku pengen udah bisa ngatur waktu aku bisa main-main dan waktu untuk serius.
Dan masih banyak lagi.
Random lagi yak. Ehe..

Senin, 03 Juni 2019

Menulis, membaca, dan diskusi

Menulis, hanya kamu yang bisa aku lakukan saat ini.
Membaca, kenapa kamu susah kugapai?
Diskusi, aku selalu diam jika berada di dekatmu.

Menulis, aku ingin abadi seperti bung pram.
Membaca, aku ingin denganmu bersama ratusan buku seperti bang tere.
Diskusi, aku ingin cermat seperti buk nana.

Menulis, jika bersamamu tak perlu susah payah introvert sepertiku harus bicara.
Membaca, jika denganmu tak perlu susah payah aku mengaitkan batu dengan nyawa puan dan tuan.
Diskusi, jika sering bertemu tak perlu susah payah aku mengeluarkan urat di dahi.

Menulis, tidak semudah tanda tangan.
Membaca, tak semudah chatting-an.
Diskusi, tak semudah pacaran.

Tentang bagaimana setiap kata bisa seirama.
Tentang kata-katanya yang tak seselera.
Tentang semuanya, yang sampai sekarang belum selesai.

Senin, 01 April 2019

Sambat Dulu, Kalo Nggak Sambat Nggak U...

Ehe. Rampal-Beberapa bulan lalu.

Aku boleh cerita sebentar? Sebelum aku mengerjakan beban? Eh salah, mengurangi beban..
Kadang aku kecewa dengan diriku sendiri, mengapa? Kadang, aku menganggap beban apa yang dulu pernah aku cita-citakan. Aku juga sering sekali membuat impian tanpa tau rencana yang akan kuperbuat untuk mewujudkan itu..
Aku kadang iri, kepada para pekerja keras.. kepada para bapak yang tak bosan membanting tulang mereka, walaupun itu kebutuhan dan kewajiban.
Semakin lama aku bertemu manusia, aku semakin banyak tahu tentang mereka. Kadang aku acuh, dan sisanya aku peduli.
Aku ingin sekali ini, ingin sekali itu.
Tanpa mau melakukan ini, melakukan itu.
Lalu? Berbuah penyesalan, dan akhirnya menjadi beban..
Apa aku selama ini hanya berpura-pura baik ya di depan diri ku sendiri..
Apa aku takut dibilang buruk ya, padahal aku memang buruk.
Kenapa aku otomatis pasang muka datar ya ketika bertemu manusia, dan sangat ekspresif mengungkapkan itu semua di media sosial?
Aku kecewa, hatiku sakit, aku tertawa, perutku sakit.
Kenapa aku harus tertawa? Aneh kan..
Besok aku seharusnya melakukan sesuatu, tetapi sampai sekarang aku belum siap.. semuanya terasa menjadi beban.. aku takut, aku ingin teriak.. semua orang sambat..

Hari demi hari berlalu, semua beban yang dulu aku hindari, nyatanya bisa kulalui.
Sekarang, aku ingin menata lagi, bagaimana aku bisa menikmati semuanya seperti impian awalku.
Dalam dua bulan kedepan, ada beberapa deadline yang haru kuselesaikan.
Semoga aku bisa maksimal, semoga aku bisa terus tertawa, dan sedikit menangis.
Entah itu menertawakan manusia lain, atau bahkan diriku sendiri.

Jumat, 08 Maret 2019

Lagi Melankonis

Udah setengah hari maenan sama Ame, laptop. Tapi belum ngetik apa-apa, padal keyboardnya meronta-ronta pengen dipijet, capek dicuekin mulu.. ululu

Manusia bertemu untuk saling memberi makna atau membuat perkara yang diikhlaskan-yang terdalam.

Ketika aku mulai mengerti manusia, aku sadar kita benar-benar saling membutuhkan satu sama lain. Bukan hanya itu, kita juga akan saling merepotkan satu sama lain, entah itu meminta atau memberi bantuan, kebahagiaan, ataupun kesedihan. Dan tak jarang dari mereka tak mau menerima konsep itu, mereka hanya ingin meminta perhatian dan memberi bantuan.

Hampir seperlima abad aku ada di dunia, dan disini mungkin sudah bertemu dan mengenal 300-an orang, mungkin. Dan sekarang, aku kecewa dengan salah satu dari mereka. Hingga aku memutuskan untuk membatasi hubunganku dengannya. Bukan kalimat yang baik dan juga bukan sifat yang baik. Ceritanya aku adalah tokoh yang berwatak egois.. Gitu jen.

Aku salah terlalu berharap kepada manusia. Manusia tak pernah bisa sempurna seperti Sang Pencipta. Aku juga manusia, aku juga sering menyakiti manusia lain. Mereka tak jarang berharap banyak, lalu ku buat kecewa.

Dipikir lagi dan lagi, obat dari itu semua adalah ikhlas. Wus, ngomongin ikhlas tu enak ngomongnya aja, prakteknya susah banget. Haha, ikhlas ya baca tulisan ini.

Photo by Ashik Salim on Unsplash

Aku, yang terlalu sibuk mengurusi urusan hati.
Di dalam nya..terdapat banyak rasa
Akhir-akhir ini aku merasa ada yang hilang..
Yaps, seseorang.

Yang selama ini ternyata sudah membawaku ke luar batas-batas yang kubuat, dan melewati itu membuatku melihat dunia dari berbagai sudut pandang.. Rasa tidak nyaman diubah oleh waktu menjadi aman.. Aku berani menumpahkan semuanya..
Lalu, tiba-tiba ia pamit ingin pulang..
Ingin menahannya untuk tidak pulang, tapi nanti ia kasihan..
Nampaknya ada masalah, di pertemuan yang lalu ia agak lain..
Hai..tapi aku juga sudah terlalu nyaman..

Lalu, datang dua orang yang misterius menahan kedua tanganku
Sehingga aku tak bisa melihatnya pulang ke arah mana..
Tolongg.. jangan pulang..
Hanya jerit batin...hingga ia pulang..jangan..

Aku dibawa ke sebuah ruangan, dikunci dan dijaga dari luar..
Lalu kulihat buku kusam yang tergeletak di bawah tempat tidur..
Bukunya yang pulang..
Kubaca..kutangisi..lalu kutulisi dengan pertanyaan-pertanyaan  di akhir halaman,

Kenapa ia pulang? Kenapa ia datang? Kenapa aku kesal ia datang lalu pulang? Kenapa ia tak ungkapkan saja.. kenapa kita harus berbeda.. kenapa ia tak mau berjuang menyatukan perbedaan? Kenapa?

Hidup memang tak luput dari masalah..
Masalah juga yang membuat hati menyiptakan rasa yang berbeda-beda.. tak selalu tentang rasa senang.. tak juga sedih.. monoton dan tak seimbang..

Poinnya kenapa harus seimbang? Kenapa tak boleh selamanya senang? Siapa yang melarang?
Would u like to comment?

Sampai pada paragraf ini ada, aku akhirnya sadar.. apa yang ku mau belum tentu aku butuhkan. Nanti jika aku paksa untuk semuanya sesuai apa yang ku mau, jadi apa aku. Ya tetep jadi manusia, hehe.

Sabtu, 02 Februari 2019

Tanyakan Pada Hujan yang Tidak Suka Bergoyang

Hai..

Hari ini ada momen penting, yang harus kutulis dan kubagikan di blog ini. Aku baru saja menemukan sebuah pertanyaan, tentang tulisan seperti apa yang bisa dibagikan disini. Dan jawabannya adalah, mengapa aku harus membatasi apa yang ada dipikiranku? Kadang, aku hanya memiliki sedikit kata untuk mengungkapkan semua cerita yang kupikirkan, hanya dipikirkan. Mungkin setelah ini akan ada banyak tulisan yang menurut kalian, pembaca blog ini, yang akan merasa tulisanku lebih tidak berfaedah dari sebelumnya. Tetapi, aku juga akan terus belajar dan lebih giat membaca lagi. #Peace

Ehehe, jangan lupa, diatas kita ada langit yang luas.

Hujan,
kapan kau turun? apakah masih belum waktunya?
Hujan,
siapa kau? setangguh itukah kau membuat orang-orang menantimu?
Hujan,
bagaimana bisa? besok ketika kau memberi kejutan, orang-orang malah ingin kau lekas pergi?
Hujan,
apakah kau bisa bertahan? dengan perlakuan manusia yang begitu?
Hujan,
dimana kau? dua hari lagi orang-orang akan mencarimu, percayakah?
Hujan,
mengapa kau hanya diam? kau sedari tadi mengerti pertanyaanku kan?

Karena tulisan ini berlabel pesan singkat, maka cukup sekian, dan terimakasih.

Senin, 28 Januari 2019

Selera Humor di Malam Hari

Malam ini tekad menulis muncul lagi, dan sayangnya masih dengan minimnya wawasan. Hiya sayang. Hanya sekedar ingin berbincang dengan malam yang dingin namun tak menyehatkan. Kok bahasanya gitu, emang dingin menyehatkan? Awal paragraf macam apa ini.

Apa hobi kalian? Kalau aku, akhir-akhir ini sedang suka musik indie. Awalnya aku sama sekali tak mengerti jenis-jenis musik, sampai sekarang pun. Yang baru aku cari tahu tentang musik ini, musik indie. Pertama kali mendengar lagu Selamat Malam yang dinyanyikan oleh Hanskerta. Karena aku mendengarnya di Youtube, muncul judul-judul lain yang berlabel "indie". Aku penasaran dan mencari tahu. 

Dari Wikipedia aku tahu, Indie pop adalah sebuah aliran musik alternative pop yang berasal dari Inggris pada pertengahan era 1980an. Istilah indie digunakan untuk menggambarkan grup musik yang berkarier secara independen. "Unik nih, suka ah," dah sederhana banget gua suka Indie pop.

Et, nggak faedah ya baca tulisan ini. Tapi pengen nulis nih, yaudah aku lanjut, selebihnya terserah kalian. Kadang suka mikir kenapa susah nulis hal yang faedah, susah cuy nggak bisa maen-maen kayak tulisan-tulisan di blog ini.

Akhir-akhir ini, aku merasa ada sebuah rasa ketidaknyamanan di dalam diriku. Aku tidak bisa tulus tertawa, bersedih, marah-marah, jadi semuanya berasa nanggung. Pikiran ku diisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya hingga sekarang.  Aku fikir manusia hidup di dunia ini dengan sifat egois nya.

Bicara tentang tanah, seenaknya mengakui itu milik nenek moyangnya kemudian kalau punya uang dibangun rumah atau sawah. Kalau tidak punya uang bisa juga dijual, yang membeli juga menggunakan tanah itu untuk dibuat bangunan atau apapun yang akan bermanfaat untuknya.

Jika pradugaku benar, semakin hari tanah di bumi akan ditutupi oleh aspal, cairan semen padat, dan semacamnya. Yak tul, masih ada pabrik semen yang setiap hari memproduksi semen. Masih ada juga toko bangunan yang menjual bahan-bahan dan alat untuk membuat bangunan. Lalu semakin banyak tanah sebagai alas bangunan dari pada alas pohon dan tumbuhan.

Hal tersebut adalah takdir bukan? Manusia yang dicap sebagai makhluk paling tinggi kedudukannya di muka bumi ya begitu. Manusia butuh rumah yang dibangun dengan bahan-bahan bangunan yang dijual di toko bangunan. manusia merampas hasil bumi yang lain juga untuk bertahan hidup. Hah, tak puas aku tetapi aku ingin berenti disini.

Plastik. Bagaimana dengan plastik? Aku belum mencari lebih dalam tentang plastik. Aku cukup tau dia terkenal karena tahan air, dia bisa jadi apa saja. Mulai dari anting, bak mandi, cermin, d, e ,.., sampai abjad z ada nama bendanya. Wa, plastik. Hal lain dan utama ya dia susah dihancurkan, butuh waktu puluhan tahun untuk mengurai plastik. Oh, bisa juga dibakar, tapi aku tetap tidak suka, asapnya tidak harum.

Tapi manusia juga punya sisi baik, ada kok orang-orang di luar sana yang peduli dengan masalah-masalah tersebut. Eh, semua manusia juga punya sisi buruk, mereka ada yang tidak sadar atau sadar tetapi tetap membiarkan masalah tersebut. Eh lagi nih, manusia kenapa ya padahal tau mana yang baik, mana yang buruk tapi, mereka malah milih yang buruk?

(www.unsplash.com)

Takdir Manusia

Takdir bilang saat manusia sudah lahir, manusia akan lahir.
Takdir bilang nafsu adalah milik setiap manusia.
Takdir bilang saat nafsu manusia lahir, alam bisa saja berakhir.
Takdir bilang alam akan berakhir, salah satunya karena manusia.

Bukan hanya baik, sisi manusia juga buruk.
Ku kira, manusia tak dapat terus baik.
Ku kira, manusia tak dapat terus buruk.
Bukan hanya buruk, sisi manusia juga baik.

Manusia baik dan manusia buruk adalah takdir.
Manusia baik adalah takdir.
Manusia buruk adalah takdir.
Manusia buruk dan manusia baik adalah takdir.

Lupakan hal itu, sekarang menurut kalian apa?
Tentang tulisan ini, apakah baik atau buruk?
Tentang tulisan ini, apakah buruk atau baik?
Lupakan, sedari tadi kau sadari atau tidak?

Aku hanya membolak-balik kata-kata.
Aku hanya menyusun kata-kata.
Apa kau butuh kata-kata yang dibolak balik?
Apa kau butuh kata-kata yang disusun?

Sekian.
 

Minggu, 27 Januari 2019

Sudut Pandang Pemeran Utama


Kacau ya, sementara air mata ini deras mengalir. Lega sebenarnya. Aku tak perlu bersusah payah menahan sesak di dada. Banyak hal yang membuatku ingin keluar rumah. Salah satunya aku ingin menangis sendirian tanpa tahu orang lain. Dan aku rasa diluar sana juga banyak ketidakadilan terjadi.

Aku ingin menjelajah hutan ini, ya aku sudah mantap. Aku akan membawa luka ini pergi. Nanti, jika hujan turun, sekali-kali aku ingin berlari agar topeng ini tak sengaja jatuh. Biarkan jatuh, tapi nanti aku akan berusaha tetap menyapa buaya yang menunggu kancil datang, aku akan menjatuhkan daun agar semut tidak tenggelam, atau aku juga akan mencegah pemburu di tikungan depan sana agar tak menembak burung sembarangan.

Kau tak mau tahu kah? Air mataku masih deras mengalir dari kedua sudut mata ini. Sekarang kening ku ikut mengkerut masih ingin bertanya banyak hal. Hidungku tersumbat aliran syaraf yang ingin keluar.

Aku budak puan, yang ku nampak hanya punggunggnya yang sang puan sedang melihat punggung tuan lain. Alunan yang sang puan suka, aku suka dan aku dengarkan sekarang dengan sisa air mata yang mengering di pipi. Sudah kering, dulu deras mengalir saat ia tahu sang puan menyaksikannya untuk sang pujaan.

Sebelum itu, aku sering tersenyum membayangkan sang puan bertingkah, dari mulai berjalan, berbicara, menatap, berdiam, atau bahkan tertidur. Ia mengenang bayangan mereka terpampang di jalanan aspal dan matahari yang terik membuat bayangan itu semakin tajam. Ia teringat lagi saat sang puan membawa air hangat tanda penghargaan atas diriku. Dan masih banyak hal lain.

Aku butuh apa saja ya? Aku hanya butuh tekad kan? Sebentar, tetapi aku masih ingin bermain gitar disini dan bernyayi lagu kesukaan sang puan bersama sang puan. Dia dimana sekarang? Apakah ia tetap tak terlalu peduli dengan kulit putihnya? Ia harus makan tiga kali sehari kan? Terlalu sering tidur di pagi hari juga tak elok kan untuk jasmaninya? Pastikan iya dan semakin masam aku.

Sementara, biarkan dulu itu disitu. Ada masalah lain di luar sana yang harus aku bantu untuk menyelesaikannya. Ya, semampuku saja tetapi aku akan maksimal. Dan ketika nanti keadaan sudah netral, akan aku cari jawaban itu.

Aku sudah pernah menulis satu halaman dengan font size 11, spasi 0,5, penuh satu halaman (20x15) cm. Mulai dari asalnya, apa yang ia lakukan saat itu, kesibukannya, lagu kesukaannya, mata merahnya, bau tubuhnya, ketenangannya, dan masih buanyak dan kurasa itu hanyalah hal-hal kecil yang ada di permukaannya saja.

Waktu kutulis itu, sungguh hanya kejahilan tangan yang sekarang aku puja-puja. Aneh rasanya seperti ini. Oleh karena itu, aku ingin pergi ke hutan, mencari hal lain. Aku laki-laki lho, banyak hal lain yang masih mengganjal disini, dihatiku. Utamanya sang puan.

Di paragraf terakhir aku sadari, air mata di pipiku sudah kering sempurna, aliran udara di hidung sudah lancar, dan keningku sudah licin lagi. Aku senang, ku akhiri dengan beberapa baris sajak, ya.

SEBENTAR PUAN

Puan, mau tak tunggu sebentar?
Aku pergi sebentar
Aku lari sebentar
Aku intip dunia luar sebentar

Jika nanti puan rasa sudah terlalu lama
Bisa puan akhiri sendiri
Bisa puan tutup sendiri
Jika saja puan menoleh kebelakang dan itupun tidak butuh waktu lama

Apakah puan tetap dipunggungi sang tuan?
Sang tuan mungkin sepertiku
Sang tuan bisa saja sepertiku
Apakah puan tetap ingin melihat punggung sang tuan?

Baiklah sebentar saja
Jangan menoleh kebelakang dulu
Jangan lelah dipunggungi dulu
Aku hanya sebentar saja

Jumat, 18 Januari 2019

Narasi Tiga Peran Protagonis

"Haloo.."

Hari ini cerah, langit biru, dan banyak pohon. Ia banyak tersenyum hari ini. Banyak hal menyenangkan yang ia alami hari ini. Ia sangat bahagia karena banyak pohon hijau yang beralaskan langit biru. Itu salah satunya. Hari itu Ia menjalani hidup seperti orang normal lainnya. Ia pemeran utama.

Lalu, ada dua pemeran pembantu yang sangat membantu pemeran utama. Mereka sangat membantu peran utama agar selalu ceria dan tersenyum. Hingga tanpa sadar, salah satu dari mereka sadar mereka menyukai pemeran utama.

Penulis lupa, pemeran utama memiliki karakter yang baik, sangat peduli dengan orang lain, sangat peka terhadap lingkungannya. Sayangnya, ia bahkan tidak peduli dengan dirinya sendiri. Entah karena kemarin langit dan pohon sangat indah, ia memutuskan untuk berkelana keluar lagi mencari keadilan untuk sekitarnya.

Kemudian, pemeran pembantu. Karena ada dua, sebut saja satunya coklat dan satunya matcha. Ya, keduanya dalah minuman favorit penulis. Mereka sama-sama baik dan ingin membantu banyak orang, tak terkecuali pemeran utama.

Wkwk, penulisnya sak karepe dewe iki ya.
Bentar, ada beberapa sajak untuk mengakhiri babak awal cerita tiga pemeran protagonis ini, semoga kalian hari ini bahagia. Apaan sih.

Hai.
Apa yang kau tunggu?
Apa yang kau harapkan?

Jangan.
Jangan ditunggu,
jangan berharap.

Bahagia.
Bahagia bukan ditunggu,
coba cari antonimnya.
Bahagia bukan dengan berharap dari orang lain,
coba sebaliknya.

Apa?
Tidak terima?
Lihat saja narasi ini,
penuh keanehan kan.

Ya,
karena tadi sudah kubilang,
jangan ditunggu dan diharapkan.
Banyak makna belum bisa tersampaikan dengan indah.
Sang penulis masih mencari keindahan.

Lihat saja,
apakah bisa tulisan miring ini disebut sajak?

Hai.
Apakah orang-orang masih memerankan perannya?
Apakah mereka bahagia memerankan perannya?
Apakah mereka masih berharap bisa mengganti perannya?

Oh sayang,
penulis kalian tidak peduli dengan penantian kalian.
Oh sayang,
penulis kalian tidak peduli dengan pengharapan kalian.

Kalian akan berbahagia kok pada akhirnya.
Kalian beruntung,
penulis kalian tidak suka memberi akhir yang menyedihkan.
Tapi sayangnya,
penulis kalian suka menggantung tulisan.

Sekian.

Rabu, 16 Januari 2019

Galih dan Barsha 2


Galih mungkin saja kecewa dengan Barsha yang tiba-tiba saja pergi. Ia menggunakan cara paling absurd lagi. Ya, tapi mau gimana lagi ya kan sudah terjadi, Galih ini termasuk tipe orang yang suka sekali menganut kalimat-kalimat klise. Ya, salah satunya tentang takdir. Ia ingin kecewa dengan Barsha, tapi ia yakin Barsha tidak mungkin sengaja melakukan hal se-absurd itu.

Iya, Galih masih punya harapan karena ia percaya dengan Barsha.

Galih ingin menghubungi Barsha dan menanyakan kabarnya,  mengapa waktu itu ia tiba-tiba saja pergi. Tapi ia tidak punya nomor teleponnya. Ia lupa pernah belajar melupakan Barsha. Salah satunya menghapus kontaknya. Kenapa ya, waktu itu rumit dan sekarang sang author belum ingin menceritakannya. Galih masih ingat semangat Barsha mengajaknya bermain ayunan dan memancinngya untuk bicara. Dan bahkan saking semangatnya ia ingin berkisah terlebih dahulu.

 [“Aku akan terus menunggu Sya. Aku ingin mendengar ceritamu yang waktu itu. Walau katanya kamu sudah masuk sekolah, kamu sudah pergi ke kantin, kamu sudah naik angkot, atau bahkan kamu sudah bermain ayunan lagi dengan orang lain. Sya, aku ragu, tadi ada yang bilang kamu menghindar dan tidak datang kesini lagi karena malas. Katanya kamu malas menceritakannya padaku, katanya akan rumit dan aku tidak akan mengerti. Aku hampir percaya lahh. Tapi hati kecilku terus menyemangatiku untuk menunggu dan bersabar. Kebalik, bersabar dan menunggu.

Mengenai pilihan aku sekarang percaya bahwa hidup ini adalah tentang pilihan. Apapun yang akan kita lakukan kan pasti harus melalui tahap memiih terlebih dahulu. Dan tentang mengapa dan mengapa itu terserah sang pemilih. Dan setiap pilihan kan memiliki resiko. Atau minimal kita sudah mereng-reng kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi ketika memilih pilihan-pilihan itu.

Sekali lagi aku tegaskan bahwa aku percaya padamu. Walaupun kadang aku meragukannya. Tapi kamu sudah terlanjur memberi harapan kepadaku yang sudah aku jelaskan sebelumnya pada bab sebelumnya. Kamu sebelum ini sudah membantuku banyak. Kamu duluan yang berupaya mengenalku kan.

Kita bertemu di ruang kelas. Aku melihatmu asing, ternyata memang kamu pantas dianggap asing. Kamu terbully waktu itu dan aku hanya melihat saja dan membiarkan kamu di kata-katai orang disitu. Tapi pada pertemuan-pertemuan selanjutnya kamu sangat penasaran dengan orang-orang baru, yang kebetulan salah satunya aku. Kamu seperti anggota sensus, mulai dari tempat tinggal dan pekerjaan orang tuaku. Sampai kamu mencari namaku di google dan itu lucu menurutku.

Karakter kita jelas berbeda dan aku yakin itu. Kamu sudah tahu buanyak hal dari pada aku, aku tahu itu. Kamu sangat ingin aku produktif menulis, kamu mau aku berfikir kritis, dan kamu juga ingin aku menjadi apa yang aku mau, terimakasih. Dan aku adalah orang yang memang ingin banyak menulis tetapi belum suka membaca, kamu tahu itu. Wawasan ku apalagi, dan entah kenapa aku ingin menulis tentang karakter kita.

Ada yang pernah nulis kalo dewasa itu bukan saja dilihat dari umur. Kadang, ada orang yang umurnya lebih muda tetapi memiliki kedewasaan yang lebih tinggi.

Aku masih menunggu karena kamu sudah mengiyakan, Sya. Aku percaya padamu sehingga aku menunggumu. Aku yakin kamu masih mempersiapkan jawaban yang paling baik. Semoga saja dugaan ku benar.

Kita bertemu dari yang hanya saling tatap sampai pada saling menguatkan. Kamu pernah membuat perjanjian tetapi aku juga nggak tahu apakah kita sama-sama berusaha melupakan itu dan sekarang kamu membuat aku menunggu lagi. Dan jika memang kamu tidak ingin aku menunggu jangan membuat pernyataan yang membuatku menunggu ya. Sekali lagi terimakasih dan maaf.”

Sambil menunggu ada beberapa hal yang ingin aku diskusikan ketika bertemu denganmu nanti.

1.       Banyak burung, pohon, dan sungainya juga lancar
Jadi aku berdomisili di Malang, tetapi sesuatu membuatku harus ke Kediri. Perjalananku menuju Kediri sangat berkesan, alam sangat indah ternyata. Aku disuguhi pemandangan sekelompok burung, pohon, dan sungai yang masih asri.
Selain karena aku sangat jarang bepergian menggunakan bis, aku juga belum pernah ke Kediri. Biasanya aku lebih banyak tidur saat perjalanan, tetapi kali ini tidak. Udaranya juga sangat sejuk, tapi itu karena AC yang terlalu terbuka lebar. Hehe.

2.       Angka kelahiran dan angka kematian
Kelahiran di Indonesia sangat pesat, kemarin ada sekitar 500 pasang orang menikah massal. Wahh, ya nggak apa-apa sih. Tapi tidak ada kan ya mati massal? Kecuali ada bencana alam atau peperangan. Nah, wajar kan berarti kalau aku merasa semakin lama bumi ini semakin sesak dipenuhi dengan manusia dan ahklaknya.

3.       Hakikatnya alam
Alam ada terlebih dulu dari pada manusia ya, right?

4.       Hakikatnya rumah
Tempat Tinggal Seperti Kebutuhan Pokok Ya.

5.       Sampah
Sampah masih dimana-mana, kemarin masih banyak sampah yang tersangkut di kali.

6.       Jalan aspal
Jalan aspal apa perlu ya, kan bisa dari tanah aja, wkwk. Sak karepe dewe.

7.       Hutan dan sawah
Hutan yang beralih fungsi menjadi lahan pertanian juga aku penasaran

8.       Manusia
Ada yang kelakuannya baik, ada juga yang buruk. Atau campuran, kadang baik kadang buruk. Aku pikir manusia tidak bisa terus baik atau terus buruk. Aku menemukan satu pertanyaan yang masih belum bisa aku jawab. Yakni mengapa ketika orang sudah tau mana yang baik atau buruk tetapi mereka masih tetap melakukan hal-hal buruk?

9.       Cerpen Paulo
Buku Seperti Sungai yang mengalir merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Paulo Coelho.

10.   Paulo Coelho
Aku tertarik dengan cerita paulo karena dulu ibunya sangat mengarahkannya menjadi insinyur, tetapi ia bisa tetap pada pendiriannya menjadi penulis walaupun ia tidak tahu apakah hidupnya akan terjamin atau tidak.]

Ia berulang kali membaca tulisannya sendiri dan ia masih merasa kurang puas dengan tulisannya sendiri. Ia benar-benar ingin membuat Barsha langsung berlari ke taman sekolah ketika ia membaca surat itu. Sekali lagi ia hanya melipat kertasnya dan menyimpannya di selipan buku gambarnya. Mungkin masih ada banyak revisi lagi setelah ini.



28-05-20

Sulit sekali untuk mempercayainya, membenarkannya sekali sekali, memaafkannya, dan menerimanya. Mungkin karena belum pernah kucoba sebelumny...