Rabu, 13 November 2019

Gedubrak


Harapan yang kosong
Tadi pagi hujan tak mau berhenti
Rasa yang dimakan waktu
Semua berlalu tanpa sempat ku bersua kepada dunia
Impian yang semu
Terus berjalan tanpa tahu kemana harus berlabuh
Seperti awan gelap yang selalu kembali ke atas kepalaku
Sementara dengan kekekalan yang tak kita pernah tahu
Menuntunku sambil membisikkan cinta, harapan, dan juga ikatan
Tanpa mau memberiku kesempatan
Tuk keluar dan berhembus
Tak kurasakan bab selalu ku abaikan
Leherku kucekik
Mataku menyipit
Tanganku menangis merah
Tubuhku jatuh sejatuh jatuhnya ke jurang terdalam di seluruh alam semesta
Lalu ditempa, ditekan, lalu tak bisa bangun lagi
Hari pun terus berlalu
Ku terdiam
Di tengah malam
Ku tertawa
Di atas semuanya
Ku ingin pulang
Membenamkan tubuhku, pulang.

Jumat, 08 November 2019

SORAI


14 derajat celsius
Ubun-ubunku yang hangat harus berbagi kehangatannya kepada kedua tanganku yang memutih karena hari memulai lagi. Dimana aku nanti ngopi? Baju apa yang kupakai untuk dua hari kedepan? Bagaimana aku menghabiskan hari ini?
01.17 AM
Kenapa aku masih hidup? Tadi ibuku membawa samurai menatap tajam mataku dan menyusulku ke lantai dua. Ia membunuhku dan semuanya putih. Seorang ibu membunuh anaknya sendiri yang durhaka, kurang lebih seperti itu headline yang tertera di koran.
Dunia kapuk
Kenapa setiap scene berganti dengan cepat tetapi masih jelas? Sepertinya pikiran-pikiran ku kemarin siang berubah menjadi monster jahat yang masuk dan menggodaku di sini. Ibu dan bapak masih tetap dengan argumennya masing-masing. Kata bapak, bapak sudah mengalah. Kata ibuk, yang penting anak-anaknya bahagia. Kata nenek, nenek tak punya hak apapun untuk ikut campur urusan anak cucunya.
Bumi
Disini aku bermain peran sesuka ku. Tapi akhir-akhir ini aku tak suka dengan peranku yang menjaadi diri sendiri. Aku adalah aku yang menjadi aku yang tak suka. Tapi kenapa kalo aku enggak suka sama diriku sendiri?. Kecewa, sedih, marah, “itu hanya perasaan belaka” katanya begitu. Sialnya, aku termakan kalimat itu.
Sekali di setiap jam yang terlewati
24 jam. Aku tidur rata-rata jam sepuluh malam dan bangun jam lima pagi, tujuh jam. 24-7 = 17 jam aku hidup. Berati tujuh belas kali aku merasa sia-sia.
Masihkah ada waktu yang banyak untuk sampai pada titik kebahagianku yang utopis? Untuk apa? Katamu dulu hidup untuk sang pencipta sudah lebih dari cuku, Nan? Lah, sudah meregang apa-apa yang dulu aku genggam erat. Semoga, ya hari itu, aku bisa meninggalkan bumi dengan baik.[1]
Potongan-potongan kecil
-      Malam hari. Ada bapak, ibuk, dan juga aku. Kita habis banja-banja manja. Aku yang capek akhirnya dipunji sama bapak sambil merem nikmatin angin malam yang katanya gabaik buat kesehatan tapi nyatanya enak banget. Ibuk jalan di samping bapak. Mereka ngobrolin banyak hal, seingetku. Mereka juga ngerasani aku, tapi aku lupa apa yang mereka bicarakan. Tapi, tanpa disangka momen ini adalah momen yang paling nyaman dan bahagia yang paling baik kesimpen di memori.
-      Dulu, bapak kalo dagang bakso pakek sepatu olahraga, pacakane mbois ilakes. Kalo sekarang boro-boro pakek celana panjang, seringnya sekarang pakek celana pendek sama kaos. Tapi dulu keknya seru banget gitu. Sebelum berangkat, biasanya aku suka ngerjain bapak. Kadang tak suruh nggambar binatang(yang paling aku inget si gambar bebek yang sering digambar bapak, wkwk). Pernah juga bapak  tak suruh jadi kuda terus aku tunggangin. Keliling-keliling rumah sepetak yang dulu bergema cekikikan kita bertiga.
-      Kalo ibuk, aku lebih inget cara dia nerapin disiplin waktu dan urus tetek bengek pekerjaan rumah. Ibuk itu suka kebersihan sama kerapian. Walopun rumah di Jakarta itu kecil, tapi selalu rapi dan bersih.


Hal-hal yang terus berputar setiap hari selama beberapa bulan terakhir. Sulit untuk melepasnya, tanganku sudah terlalu erat menggenggam. Sampai suara itu terdengar lagi, genggamanku akan semakin erat. Aduh, tanganku sakit! 
Lalu, ku ambil tali ku ikatkan potongan-potongan ini menjadi satu. Di ujung yang lain, kulilitkan di tangan kiriku. Semakin keras suara itu, mataku semakin tertutup rapat, tangan kananku semakin sibuk melilitkan tali. Crot...urat nadiku hampir putus!
Inikah ketenangan itu, Tuhan?! Aku mati di akhir cerita. Selamat tinggal.

[1] Tanpa tangisan berlebih dan kebahagian berlebih.

Jumat, 11 Oktober 2019

Aku Tak Sendiri

dapatkah aku keluar sendiri?
melewati pasar, sekolah, dan menyebrang rel kereta sendiri?
walaupun di pasar, perempuan bersorban tidak baik katanya pergi membeli timun sendirian?
walaupun di sekolah perempuan tidak boleh memakai celana?
walaupun untuk menyeberang kereta harus tengok kiri kanan?

jika aku keluar sendirian
dapatkah aku sendirian
melewati berbagai macam orang
menjawab pertanyaan-pertanyaan liar
menjabat semua tangan mereka

karena aku tak pernah keluar sendirian
aku ditemani dia
dia yang tiba-tiba datang mengetuk pintu rumahku
dan dalam hitungan menit mampu membuatku percaya ada sosok yang bisa membantuku
tetapi apakah aku boleh terus bersamanya, Tuhan?

*sebenernya kalo mau paham sama tulisan di atas harus baca dulu tulisan di bawah, ehe.
https://fernandaariyanto.wordpress.com/2019/10/09/tamu-tak-diundang/

Sabtu, 15 Juni 2019

19 Tahun 6 Bulan 8 Hari

Sebenernya banyak banget bintangnya, tapi yang keliatan di kamera cuma satu, ehe.

Syair Indah yang Kau Sukai


Masih kunikmati
Masih kudengarkan
Masih kuhafalkan
Masih kudendangkan
Untuk nanti kita nyanyikan bersama
Untuk nanti kita nikmati bersama
Untuk nanti kita pahami bersama
Karena..
Bersamamu, aku suka
Bersamamu, aku bisa sendu dengan suka
Bersamamu, aku bisa berduka dengan suka
Bersamamu aku suka karena kamu yang aku suka
Jika yang kita maknai salah, berati kita bisa lebih lama bersama
Jika kita belum bisa menikmati, berati kita bisa lebih lama saling mengenal
Jika kita masih belum bisa bernyayi bersama, berati kita bisa berlatih bersama
Wahai manusia di seluruh kerak bumi, ada insan yang selalu ingin bersama insan yang lain
Wahai seluruh tanaman berakar, bisakah kalian bantu kita agar terus bernafas untuk kita lebih lama bersama?
Wahai seluruh mamalia, reptil, amfibi, dan selain itu, bantu kami bertahan hidup, agar bisa terus berlatih, bernyanyi, dan bersama
Dan Tuhan, maafkan kami, yang sedang antusias jatuh cinta
Serta terimakasih, kami bertemu untuk bersama


Umurku hari ini 19 tahun 6 bulan 8 hari.
Di umur itu, aku lagi bingung-bingungnya sama hidup.
Di umur itu, otak sama hati lagi pada rebutan posisi untuk jadi prioritas.
Di umur itu, lagi banyak-banyaknya impian yang pengen dicapai.
Di umur itu, lagi sering-seringnya depresi.
Di umur itu, lagi pengen-pengennya main.
Dan masih banyak lagi.

Karna, kalo aku udah 20 tahun;
Di umur itu, aku pengen udah bisa menikmati pilihan hidupku.
Di umur itu, aku pengen udah bisa ngatur jadwal otak sama hati.
Di umur itu, aku pengen udah bisa ngelangkah ke impian aku.
Di umur itu, aku pengen udah bisa bangkit lagi kalo depresi.
Di umur itu, aku pengen udah bisa ngatur waktu aku bisa main-main dan waktu untuk serius.
Dan masih banyak lagi.
Random lagi yak. Ehe..

Senin, 03 Juni 2019

Menulis, membaca, dan diskusi

Menulis, hanya kamu yang bisa aku lakukan saat ini.
Membaca, kenapa kamu susah kugapai?
Diskusi, aku selalu diam jika berada di dekatmu.

Menulis, aku ingin abadi seperti bung pram.
Membaca, aku ingin denganmu bersama ratusan buku seperti bang tere.
Diskusi, aku ingin cermat seperti buk nana.

Menulis, jika bersamamu tak perlu susah payah introvert sepertiku harus bicara.
Membaca, jika denganmu tak perlu susah payah aku mengaitkan batu dengan nyawa puan dan tuan.
Diskusi, jika sering bertemu tak perlu susah payah aku mengeluarkan urat di dahi.

Menulis, tidak semudah tanda tangan.
Membaca, tak semudah chatting-an.
Diskusi, tak semudah pacaran.

Tentang bagaimana setiap kata bisa seirama.
Tentang kata-katanya yang tak seselera.
Tentang semuanya, yang sampai sekarang belum selesai.

Senin, 01 April 2019

Sambat Dulu, Kalo Nggak Sambat Nggak U...

Ehe. Rampal-Beberapa bulan lalu.

Aku boleh cerita sebentar? Sebelum aku mengerjakan beban? Eh salah, mengurangi beban..
Kadang aku kecewa dengan diriku sendiri, mengapa? Kadang, aku menganggap beban apa yang dulu pernah aku cita-citakan. Aku juga sering sekali membuat impian tanpa tau rencana yang akan kuperbuat untuk mewujudkan itu..
Aku kadang iri, kepada para pekerja keras.. kepada para bapak yang tak bosan membanting tulang mereka, walaupun itu kebutuhan dan kewajiban.
Semakin lama aku bertemu manusia, aku semakin banyak tahu tentang mereka. Kadang aku acuh, dan sisanya aku peduli.
Aku ingin sekali ini, ingin sekali itu.
Tanpa mau melakukan ini, melakukan itu.
Lalu? Berbuah penyesalan, dan akhirnya menjadi beban..
Apa aku selama ini hanya berpura-pura baik ya di depan diri ku sendiri..
Apa aku takut dibilang buruk ya, padahal aku memang buruk.
Kenapa aku otomatis pasang muka datar ya ketika bertemu manusia, dan sangat ekspresif mengungkapkan itu semua di media sosial?
Aku kecewa, hatiku sakit, aku tertawa, perutku sakit.
Kenapa aku harus tertawa? Aneh kan..
Besok aku seharusnya melakukan sesuatu, tetapi sampai sekarang aku belum siap.. semuanya terasa menjadi beban.. aku takut, aku ingin teriak.. semua orang sambat..

Hari demi hari berlalu, semua beban yang dulu aku hindari, nyatanya bisa kulalui.
Sekarang, aku ingin menata lagi, bagaimana aku bisa menikmati semuanya seperti impian awalku.
Dalam dua bulan kedepan, ada beberapa deadline yang haru kuselesaikan.
Semoga aku bisa maksimal, semoga aku bisa terus tertawa, dan sedikit menangis.
Entah itu menertawakan manusia lain, atau bahkan diriku sendiri.

Jumat, 08 Maret 2019

Lagi Melankonis

Udah setengah hari maenan sama Ame, laptop. Tapi belum ngetik apa-apa, padal keyboardnya meronta-ronta pengen dipijet, capek dicuekin mulu.. ululu

Manusia bertemu untuk saling memberi makna atau membuat perkara yang diikhlaskan-yang terdalam.

Ketika aku mulai mengerti manusia, aku sadar kita benar-benar saling membutuhkan satu sama lain. Bukan hanya itu, kita juga akan saling merepotkan satu sama lain, entah itu meminta atau memberi bantuan, kebahagiaan, ataupun kesedihan. Dan tak jarang dari mereka tak mau menerima konsep itu, mereka hanya ingin meminta perhatian dan memberi bantuan.

Hampir seperlima abad aku ada di dunia, dan disini mungkin sudah bertemu dan mengenal 300-an orang, mungkin. Dan sekarang, aku kecewa dengan salah satu dari mereka. Hingga aku memutuskan untuk membatasi hubunganku dengannya. Bukan kalimat yang baik dan juga bukan sifat yang baik. Ceritanya aku adalah tokoh yang berwatak egois.. Gitu jen.

Aku salah terlalu berharap kepada manusia. Manusia tak pernah bisa sempurna seperti Sang Pencipta. Aku juga manusia, aku juga sering menyakiti manusia lain. Mereka tak jarang berharap banyak, lalu ku buat kecewa.

Dipikir lagi dan lagi, obat dari itu semua adalah ikhlas. Wus, ngomongin ikhlas tu enak ngomongnya aja, prakteknya susah banget. Haha, ikhlas ya baca tulisan ini.

Photo by Ashik Salim on Unsplash

Aku, yang terlalu sibuk mengurusi urusan hati.
Di dalam nya..terdapat banyak rasa
Akhir-akhir ini aku merasa ada yang hilang..
Yaps, seseorang.

Yang selama ini ternyata sudah membawaku ke luar batas-batas yang kubuat, dan melewati itu membuatku melihat dunia dari berbagai sudut pandang.. Rasa tidak nyaman diubah oleh waktu menjadi aman.. Aku berani menumpahkan semuanya..
Lalu, tiba-tiba ia pamit ingin pulang..
Ingin menahannya untuk tidak pulang, tapi nanti ia kasihan..
Nampaknya ada masalah, di pertemuan yang lalu ia agak lain..
Hai..tapi aku juga sudah terlalu nyaman..

Lalu, datang dua orang yang misterius menahan kedua tanganku
Sehingga aku tak bisa melihatnya pulang ke arah mana..
Tolongg.. jangan pulang..
Hanya jerit batin...hingga ia pulang..jangan..

Aku dibawa ke sebuah ruangan, dikunci dan dijaga dari luar..
Lalu kulihat buku kusam yang tergeletak di bawah tempat tidur..
Bukunya yang pulang..
Kubaca..kutangisi..lalu kutulisi dengan pertanyaan-pertanyaan  di akhir halaman,

Kenapa ia pulang? Kenapa ia datang? Kenapa aku kesal ia datang lalu pulang? Kenapa ia tak ungkapkan saja.. kenapa kita harus berbeda.. kenapa ia tak mau berjuang menyatukan perbedaan? Kenapa?

Hidup memang tak luput dari masalah..
Masalah juga yang membuat hati menyiptakan rasa yang berbeda-beda.. tak selalu tentang rasa senang.. tak juga sedih.. monoton dan tak seimbang..

Poinnya kenapa harus seimbang? Kenapa tak boleh selamanya senang? Siapa yang melarang?
Would u like to comment?

Sampai pada paragraf ini ada, aku akhirnya sadar.. apa yang ku mau belum tentu aku butuhkan. Nanti jika aku paksa untuk semuanya sesuai apa yang ku mau, jadi apa aku. Ya tetep jadi manusia, hehe.

28-05-20

Sulit sekali untuk mempercayainya, membenarkannya sekali sekali, memaafkannya, dan menerimanya. Mungkin karena belum pernah kucoba sebelumny...